Bab II : Gadis Pemanah Sandira

Hamparan kebun hijau membentang di tanah Sandira. Sang kepala suku Khamir sedang berjalan jalan dengan anak perempuannya, Kumala. "Ayah apa kita harus makan tanaman sebanyak ini? " Tanya Kumala. Khamir tertawa mendengar pertanyaan anaknya. "Hahahaha, iya kita harus habiskan karena para petani menanam ini untuk kita makan. Tapi ini bisa habis untuk beberapa bulan sayangku, bukan dalam sehari harus kita habiskan". " Berarti setiap hari kita harus makan sayur? Aku maunya daging" Celetuk Kumala. "Anakku, lihat ayah.. apakah menurutmu ayah adalah orang lemah? " Tanya Khamir pada Kumala. "Tidak ayah, ayah orang yang kuat sekali" Jawab Kumala dengan rasa bangga. "Nah itu karena ayah sangat suka makan tanaman tanaman ini". " Kalau kau juga suka makan sayur, saat besar nanti kau akan jadi sekuat ayah". Kumala langsung berhenti berjalan dan mendongakkan wajahnya yang cantik ke Khamir. "Tidak ayah, saat besar nanti aku tidak akan sekuat ayah.... Tapi aku akan jauh lebih kuat dari ayah", ucap Kumala dengan lantang. Khamir yang awalnya kaget, tiba tiba tertawa keras. " Hahahahaha.. Iya ayah percaya kelak kau akan jadi kepala suku yang jauh lebih kuat dari ayah". "Baiklah mulai besok aku harus makan sayur yang banyak" Ucap Kumala dengan nada polos anak anak.

Di atas bukit, Bogam sang panglima perang Sandira melihat rombongan pasukan Pegasia di kejauhan yang berjalan ke arah desa. Jumlah pasukan yang sekitar empat ribu orang itu membentang panjang dari utara ke selatan. Menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan bagi siapapun yang melihatnya. "Ini gila, pantas saja Antarasia kewalahan, pasukan mereka sebanyak ini" ucap Bogam pelan. Bogam langsung menaiki kudanya dan memacu kudanya dengan cepat menuruni bukit. "Kemungkinan bertahan sangat kecil, satusatunya pilihan adalah melawan sekuat tenaga, dari planet mana sebenarnya mereka itu? Sebesar apa lubang galaksi yang mereka buat hingga bisa membawa pasukan sebanyak itu? dan apa tujuannya menyerang Ermal? "pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepala Bogam.  Di pikirannya sudah terbayang bagaimana desanya porak poranda oleh serangan prajurit yang jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah seluruh pasukan Sandira. Tiba di desa, Bogam langsung mencari sang kepala suku Khamir. " Khamir sedang mengajak Kumala pergi ke kebun dekat lembah" jawab salah satu penduduk yang di tanyai oleh Bogam. Bogam langsung berlari ke arah kebun menyusul Khamir untuk memberitahu apa yang sudah dia lihat dari atas bukit. "Pasukan musuh sudah terlihat di jalur barat, persiapkan pasukan sekarang!! " ucap Bogam pada pasukan yang dia temui di desa".

Di dalam desa, Leona ibu Bidakari berdiri di depan pintu rumahnya dan terheran heran melihat para penduduk yang ramai lalu lalang di jalan. "Ada apa Moinet? Tanya Leona pada salah satu penduduk yang melewati depan rumahnya. " Para prajurit meminta kita mundur ke belakang desa, pasukan Pegasia sudah terlihat di jalur barat. Cepatlah mengungsi Leona". Jawab Moinet lalu terus berlari ke timur arah belakang desa.  Leona dengan sigap langsung menemui Bidakari anaknya. "Sayang, cepat kemasi barang barangmu sekarang". " Ada apa ibu? " Tanya Bidakari. "Kemasi saja dulu barang barangmu nanti ibu ceritakan di jalan", jawab Leona. "Bidakari segera berlari ke kamarnya dan mengemas barang barangnya. Usianya dua belas tahun saat itu. Bidakari adalah anak dari Geros, seorang pemanah terbaik suku Sandira. Tapi Geros meninggal karena sakit saat Bidakari berusia lima tahun. Sejak kematian ayahnya, diam diam Bidakari berlatih panah menggunakan busur panah peninggalan mendiang ayahnya. Tentu saja itu terlalu besar untuk anak usia lima tahun. Tapi Bidakari tidak menyerah dan terus berlatih panah. Setiap subuh menjelang pagi Bidakari berlatih panah di pinggir sungai dekat belakang rumahnya. Diam diam sang ibu juga sering memperhatikan anaknya berlatih panah dari jauh. Di balik rasa bangganya, Leona juga khawatir jika besar nanti, Bidakari memutuskan untuk bergabung dalam pasukan panah Sandira. Leona tidak ingin anak perempuannya menjadi prajurit. Dia hanya ingin Bidakari tumbuh besar sebagai perempuan pada umumnya yang rajin memasak dan berkebun seperti anak anak perempuan Sandira pada umumnya. Darah seorang ayah memang mengalir pada putrinya. Di usia dua belas tahun kemampuan memanah Bidakari hampir setara dengan pasukan pemanah Sandira. Dia bahkan bisa memanah sebuah uang logam dari jarak seratus meter dengan kondisi angin yang cukup kencang. Hanya pasukan pemanah dengan tingkat ketrampilan tinggi yang bisa melakukan itu. "Ayo Bidakari" ajak Leona sambil menuntun tangan Bidakari keluar rumah. "Tunggu ibu, busur dan panah ayah" Bidakari berlari masuk ke gudang belakang rumah mengambil busur milik ayahnya. "Cepatlah Bidakari!! " teriak Leona dari ruang tamu. Di perjalanan, Bidakari menagih janji ibunya untuk menceritakan apa yang sedang terjadi. "Ada apa ibu kenapa kita mengungsi? " tanya Bidakari pada ibunya. Leona tidak menjawab, dia terus berjalab sambil menggandeng tangan putrinya. Menyusul penduduk lain yang sudah lumayan jauh di depan. Bidakari mengernyitkan dahi keheranan kenapa ibunya tidak menjawab pertanyaannya. "Ibu jawab ada apa sebenarnya!! " Teriak Bidakari sambil menepis tangan ibunya dan berhenti berjalan. Sifat keras kepala ayahnya memang menurun pada Bidakari. Leona ikut berhenti, lalu mendekati Bidakari. "Anakku, Bogam telah melihat pasukan Pegasia di jalur barat, itulah mengapa para prajurit meminta kita mengungsi ke belakang desa" Jawab Leona. "Sekarang ayo kita susul penduduk yang lain". " Aku bisa membantu para prajurit ibu" ucap Bidakari. "Itulah kenapa tadi ibu tidak mau bercerita apa yang sedang terjadi padamu, kamu pasti akan berkata ini" ucap Leona. "Ibu, ayah telah  menggunakan kemampuan memanahnya untuk desa kita, aku juga bisa seperti ayah" jawab Bidakari. "Nak, saat ayah seusiamu, ayahmu juga belum berpikir untuk turun berperang, kau masih kecil, kau tidak pernah tau bagaimana bahayanya medan perang, demi ibu, ayo kita pergi ke tempat aman nak. " minta Leona pada Bidakari. Tak tega melihat wajah khawatir ibunya, hati Bidakari mulai melunak. Tanpa berbicara lagi, Bidakari menggandeng tangan ibunya dan mulai berjalan. Tapi dalam hatinya, Bidakari tetap membayangkan bagaimana kemampuan memanahnya bisa membantu prajurit Sandira melawan pasukan Pegasia.

"Khamir..!!! " teriak Bogam dari belakang memanggil Khamir yang sedang berjalan pelan dengan Kumala. Khamir dan Kumala serentak menoleh kebelakang dan melihat Bogam berlari ke arah mereka. Khamir langsung menggendong Kumala, firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi. Karena Khamir tidak pernah melihat Bogam terlihat panik seperti ini sebelumnya. Setelah dekat, Bogam melaporkan apa yang ia lihat. "Pasukan Pegasia sudah terlihat di jalur barat" ucap Bogam. Khamir langsung berlari ke arah desa sambil menggendong Kumala diikuti Bogam yang juga berlari di sampingnya . "Pegasia itu siapa ayah?" Tanya Kumala pada ayahnya. "Mereka orang jahat nak, sekarang kita harus kembali ke desa dan mengusir mereka". Setiba di desa,  Khamir langsung menyerahkan Kumala pada pengasuhnya dan memerintahkan mereka membawa Kumala mengungsi ke belakang desa.

" Khamir, jumlah mereka terlalu banyak. Aku belum pernah melihat konvoi pasukan sebanyak itu bahkan di Antarasia" ucap Bogam. "Apakah mereka seganas Kalamalur? " tanya Khamir. "Khamir, ini bukan waktunya main main" ucap Bogam. Khamir tersenyum kecil, "aku mengerti Bogam, bagaimana perangkap yang kau siapkan? " tanya Khamir. "Siap sesuai perintahmu Khamir" jawab Bogam. "Baiklah kumpulkan seluruh prajurit disini". Perintah Khamir. Setelah seluruh prajurit berkumpul, Khamir mulai memberi perintah. " Pasukan yang sangat kuat telah datang, tapi bagi kita bangsa Sandira, tidak ada kata menyerah siapapun lawan kita!!! ". " SANDIRA SELAMANYA!!! " teriak para prajurit. "Pasukan pemanah satu, siap di posisi kalian , pasukan darat satu ikut aku ke sisi selatan dan pasukan darat dua ikut Bogam ke arah utara desa. Kita akan menyerang mereka dari dua sisi. Pasukan pemanah satu pastikan perangkap api bekerja dengan baik untuk membakar musuh. Dan pasukan pemanah dua ambil posisi kalian di belakang desa!! perintah Khamir kepada pasukannya. Setelah mendapat intruksi dari Khamir, para prajurit langsung bergegas ke posisi masing masing. Pasukan darat yang di pimpin Khamir dan Bogam masing masing berjumlah lima ratus prajurit. Pasukan pemanah satu berjumlah tiga ratus orang dan pasukan pemanah dua yang berjaga di belakang desa berjumlah dua ratus orang. "Persetan dengan jumlahmu yang banyak Pegasia, kalian semua akan menemui ajal disini" gumam Bogam sambil memacu kudanya menuju sisi utara desa dengan para prajuritnya. Tangan kanannya menggenggam palu besarnya yang berkilauan terkena cahaya Sabareth.

Pasukan Pegasia tiba. Mereka berhenti agak jauh dari benteng desa Sandira. Suasana sangat hening, suara angin terdengar sangat jelas. Jalur berumput hijau itu yang biasanya tentram kini terlihat mencekam. Ribuan pasukan Pegasia dengan jubah perak mereka terlihat berkilauan dari jauh. Tiba tiba dari arah tengah barisan pasukan mereka, barisan proyektil mereka melontarkan batu2 besar  ke arah gerbang desa, memberikan kehancuran yang lumayan besar pada pintu gerbang desa. Pasukan pemanah yang berada di atas tembok benteng, tetap berusaha menunduk agar tidak terlihat oleh pasukan Pegasia. Merasa tidak ada serangan balasan, pasukan Pegasia kembali berjalan mendekati gerbang desa yang sudah setengah hancur untuk masuk kedalam desa.  Tapi tibatiba, barisan pasukan Pegasia paling depan terperosok kedalam parit dan parit tersebut semakin melebar karena tanah di sekitarnya ikut longsor kedalam parit. Menjatuhkan beberapa baris pasukan di belakang. Ternyata isi parit yang sedalam dua meter tersebut adalah minyak. Minyak yang sedalam lutut orang dewasa tersebut adalah jebakan yang di buat oleh Bogam beberapa hari yang lalu. Khamir dan Bogam memang telah menyiapkan perangkap tersebut untuk berjaga jaga jika pasukan Pegasia menyerang desa mereka. Namun mereka tidak menyangka pasukan Pegasia akan datang secepat ini. Apakah artinya Antarasia telah di kalahkan?.  Kemudian secepat kilat, para pasukan pemanah di atas tembok benteng melesatkan anak panah api ke dalam parit. Ratusan anak panah api yang datang dari atas benteng mengejutkan para prajurit Pegasia. Paritpun terbakar bersama ratusan prajurit Pegasia yang terperangkap di dalamnya. Melihat itu, para pemanah pasuka Pegasia melesatkan panahnya ke arah atas tembok benteng desa. Tapi ternyata para pasukan pemanah Sandira sudah tidak ada di situ. Mereka telah turun dan bersembunyi di balik tembok benteng desa. Menunggu pasukan utara dan selatan yang di pimpin Khamir dan Bogam muncul. Dalam kepanikan terhadang api super besar dari dalam parit dan teriakan para prajurit Pegasia yang terbakar, mereka tidak menyadari bahwa dari sisi utara dan selatan mereka, pasukan berkuda Khamir dan Bogam datang dengan cepat menyerang mereka. Perang yang tidak imbang pun terjadi. Ribuan pasukan Pegasia pecah formasinya karena diserang dari dua arah oleh pasukan pasukan Sandira. Sementara para pasuka pemanah yang Sandira yang telah turun, keluar melalui pintu gerbang dan menghujani panah ke arah pasukan Pegasia di barisan depan. Anak anak panah yang berhamburan tersebut datang melewati kobaran api yang menyebabkan pasukan Pegasia sulit menghindar dari hujan panah tersebut. Tapi para pemanah Pegasia melakukan serangan panah balasan. Beberapa pasukan panah Sandira yang tidak sempat berlindung ke belakang pintu gerbang, tewas terkena panah pasukan Pegasia. Beberapa saat kemudian, pasukan pemanah kembali keluar dan memanah ke arah pasukan Pegasia lalu kembali berlindung ke balik gerbang. Pasukan Pegasia mulai terdesak, korban yang berjatuhan dari kedua pihak telah banyak. Khamir semakin agresif menyerang para pasukan Pegasia. Bogam pun bertubitubi menghancurkan pasukan musuh. Tapi Bogam merasakan ada sesuatu yang aneh. Sambil bertarung, wajahnya celingukan ke arah para pasukan Pegasia. "Yang kulihat dari atas bukit jumlahnya lebih banyak dari ini, jangan jangan.. ". Dan apa yang di pikirkan Bogam ternyata benar. Ribuan pasukan berkuda Pegasia dari arah belakang datang ke arah mereka. Terdiri dari dua pasukan di sisi kiri dan kanan. Khamir terkejut melihat serangan gelombang kedua itu. Ternyata Pegasia membelah pasukannya menjadi dua gelombang. Gelombang pertama sengaja memancing lawan. Setelah mereka tau taktik perang pasukan Sandira, gelombang kedua dengan jumlah lebih banyak menyerang kearah peperangan. Terlihat di antaranya beberapa orang dengan jubah perak dan kuning yang beda dengan jubah prajurit lain. Sepertinya mereka adalah para panglima perang Pegasia. Khamir dan Bogam yang tidak siap dengan serangan susulan, tidak punya pilihan selain melawan balik. Jumlah pasukan Sandira sudah habis setengahnya. Api yang mulai mengecil, membuat pasukan Pegasia mulai bisa melihat secara jelas dimana pasukan pemanah Sandira berada. Perang semakin tidak berimbang. Kondisi menjadi terbalik. Pasukan Sandira mulai terdesak. Dari kejauhan, Bogam melihat Khamir terjatuh dari kudanya setelah di hantam oleh seorang panglima perang Pegasia menggunakan gada besar. Bogam menuruni kudanya dan lari kearah Khamir yang tersungkur kesakitan. Panglima Pegasia tersebut telah berada di depan Khamir yang berlutut kesakitan. Tepat sebelum panglima Pegasia tersebut menghantamkan gada nya ke arah Khamir, Bogam melemparkan palunya ke arah Panglima Pegasia. Tapi panglima Pegasia sempat menangkis palu Bogam dengan tangannya sebelum dia tersungkur jatuh. Bogam berlari ke arah Khamir untuk melindungi kepala sukunya itu. Tiba tiba dari arah belakang Bogam datang panglima perang Pegasia dengan tubuh yang agak lebih kecil dengan pedang di tangannya hendak menusuk Bogam dari belakang. Tapi Khamir sempat melihatnya, mendorong tubuh Bogam yang besar kesamping dan menahan pedang panglima Pegasia tersebut dengan pedangnya. Pertarungan satu lawan satu pun terjadi antara Khamir dan panglima Pegasia. Bogam yang telah berdiri mencari dimana palu nya. Ternyata palu miliknya telah di genggam oleh panglima Pegasia yang bertubuh besar. Dengan gada di tangan kanannya dan palu di tangan kirinya, dia menyerang Bogam. Bogam hanya bisa menghindar sekuat tenaga. Tubuh mereka hampir sama besar. Bogam sempat terjatuh kebelakang karena tersandung mayat pasukan Pegasia. Saat itulah kesempatan Bogam menggenggam tanah dan melemparkan ke arah mata panglima Pegasia. Panglima tersebut berteriak kesakitan karena matanya kelilipan tanah yang di lempar bogam. Bogam langsung menendang kaki kiri panglima tersebut tapi dia ternyata sangat kuat dan tidak terjatuh. Panglima tersebut mengayunkan gadanya ke arah Bogam tanpa arah. Bogam sempat menghindar dan menangkap tangan panglima tersebut dan mematahkan jari jari tangan panglima tersebut dan merebut gada miliknya. "Astaga berat sekali gada ini" ucap Bogam dalam hati.  Bogam langsung menghantam kepala panglima tersebut berkali kali hingga akhirnya dia terkapar tak bergerak. Bogam mengambil palu dari tangan panglima tersebut dan mulai menghantam satu persatu pasukan Pegasia sambil mencari dimana Khamir berada namun dia tak melihatnya. 

Di sisi lain Khamir masih bertarung dengan panglima Pegasia berpedang yang tadi. Kemampuan berpedang panglima Pegasia tersebut cukup mampu mengimbangi Khamir. Walau pada akhirnya panglima tersebut mulai terdesak oleh Khamir. Namun tiba tiba anak panah menancap di tangan kiri Khamir. Khamir berteriak kesakitan. Sekelebat matanya menangkap seorang panglima perang Pegasia diatas kuda dengan panah di kejauhan. Dia yang telah memanah Khamir. Panglima Pegasia berpedang tadi kembali menyerang Khamir. Sambil menahan sakit Khamir sekuat tenaga melawannya. Namun lagi lagi anak panah menusuk pundak kirinya. Khamir kembali berteriak kesakitan. Pandangannya mulai kabur. Tangan kirinya mulai mati rasa. Sepertinya panah tersebut telah di taburi racun. Dalam sama samar, Khamir melihat panglima Pegasia berpedang menghampiri dirinya. Khamir menghunuskan pedangnya dengan lemah. Panglima tersebut menangkis pedang Khamir hingga pedangnya terjatuh. Dan menusuk Khamir tepat di dadanya. Khamir tersungkur sambil memegangi pedang panglim tersebut dengan tangannya. Pikirannya langsung terbayang mengingat percakapan dia dan Kumala di kebun tadi pagi. "Baru beberapa waktu yang lalu aku melihat senyum tawamu nak" Lirih Khamir pelan. Panglima berpedang Pegasia menendang tubuh Khamir sambil menarik pedangnya hingga Khamir jatuh terlentang. Menyangka Khamir telah tewas, ia lalu pergi dan mulai menghabisi sisa pasukan Sandira. Beberapa saat kemudian, Bogam berhasil menemukan Khamir yang sudah tergeletak bersimbah darah. Bogam langsung menghampiri Khamir. "Kepala suku!!! "  teriak Bogam. Matanya berair melihat Khamir yang sudah tergeletak tak bergerak. Bogam mengangkat kepala Khamir. Ternyata Khamir masih hidup. "Bogam, selamatkan dirimu, pergi ke belakang desa, selamatkan penduduk kita. Sepertinya pasukan Pegasia akan terus menyerang sampai belakang desa, tetaplah hidup...Bogam". Ucap Khamir pelan. " Aku akan menyelamatkanmu dulu Khamir" jawab Bogam. Tapi Khamir tidak menjawab. Dia telah tewas. Bogam mengguncang tubuh Khamir. Lalu menangis setelah yakin bahwa Khamir telah tewas. Sambil menahan marah dan sedih, Bogam meletakkan tubuh Khamir. Bogam mengambil pedang Khamir dan pergi kearah belakang desa. "Mundur..mundur!!! " Perintah Bogam kepada pasukan Sandira yang tersisa. Mereka pun menyelamatkan diri. Tapi pasukan Pegasia tak tinggal diam. Mereka menghujani pasukan Sandira dengan panah. Beberapa pasukan Sandira yang kabur tersungkur tewas terkena panah pasukan Pegasia. "Berhenti!! " perintah salah satu panglima Pegasia. Pasukan pemanah Pegasia langsung berhenti memanah. "Fokus pada misi yang diperintahkan Raja" Kuasai wilayah mereka, pastikan tidak ada lagi pasukan musuh yang berada disana. Jika ada penduduk sipil, segera tangkap!! ". Perintah panglima tersebut. Pasukan Pegasia yang tersisa mulai merangsek masuk ke dalam desa. Mereka memeriksa setiap rumah dan bangunan disana. Tapi mereka tidak menemukan siapa siapa karena desa telah kosong. Mereka terus bergerak  hingga keseluruh pelosok desa. Sampai akhirnya tiba di wilayah belakang desa. Pasukan pemanah dua Sandira yang bertugas menjaga wilayah belakang desa mulai melihat kedatangan para pasukan Pegasia tersebut. Mereka sadar, pasukan Sandira telah kalah. Mereka adalah benteng terakhir untuk menghentikan pasukan musuh agar tidak mengejar para penduduk yang mengungsi di luar belakang desa. Sesaat sebelum pasukan Pegasia tiba di luar belakang desa, para pasukan pemanah mulai bersiap memanah jebakan api yg telah di siapkan di belakang desa. Naas nya, salah satu pasukan Pegasia yang naik ke atas salah satu bangunan tinggi desa, melihat keberadaan mereka. Pasukan panah Pegasia menghujani mereka dengan panah. Walau sempat melawan sebisanya dan membunuh beberapa pasukan Pegasia, namun akhirnya pasukan pemanah dua Sandira tewas semuanya. 

Para penduduk yang mengungsi melihat dari jauh para pemanah Sandira telah di habisi. Dengan panik, mereka memutuskan untuk pergi dari pengungsian dan berlari ke ujung paling timur pulau yaitu ke pantai Barian. Pasukan Pegasia yang melihat para penduduk yang berlarian dari kejauhan hendak mengejar mereka, di pimpin oleh panglima Pegasia pemanah yang telah memanah Khamir dengan panah racun. Namun baru beberapa langkah  mereka berlari, mereka terjebak kedalam parit jebakan api. "Lagi? Yang benar saja.. " ucap panglima Pegasia Berpedang. "Tenanglah, pasukan pemanah musuh sudah habis, tidak akan ada api" ucap panglima Pegasia yang terjatuh tersebut. Bersama ratusan pasukan yang terjebak. Dia berusaha naik ke atas di bantu oleh pasukan lainnya. Tapi tiba tiba entah dari mana datang anak panah api tepat mengenai dasar parit dan langsung menciptakan api besar berkobar. Para pasukan Pegasia yang berada di atas langsung berhamburan menghindar dari parit tersebut sementara pasukan Pegasia yang berada di bawah parit terbakar hidup hidup termasuk si panglima pemanah Pegasia. Panglima berpedang Pegasia memerintahkan pasukannya bersiaga. "Formasi pertahanan!!," Perintahnya. Dia mengira masih ada pasukan Sandira yang tersisa. Dan itu cukup membuang waktu mereka hingga para penduduk bisa lari jauh tanpa kejaran mereka. Para penduduk yang melihat api besar tersebut langsung memanfaatkan situasi dan pergi menjauh.

"Bidakari!!! " Leona berteriak teriak memanggil anaknya. Bidakari tidak terlihat di antara para penduduk. Diantara para penduduk yang berlarian, Leona terus memutar tubuhnya ke sekilling hutan sambil berteriak memanggil anaknya. Rasa khawatir dan tangis yang tertahan menjadi satu di raut wajahnya. Di atas salah satu pohon besar, sekitar dua ratus meter dari pasukan Pegasia, Bidakari tersenyum kecil sambil memegang busur ayahnya. Ternyata dialah yang memanah anak panah api ke parit tersebut. Saat Bidakari melihat pasukan pemanah dua Sandira di taklukan oleh pasukan Pegasia, dia dengan cepat mengambil busur dan satu anak panah api milik ayahnya yang dia bawa. Dia lalu mencuri pemantik milik salah satu penduduk dan mengendap endap menjauhi ibunya lalu mencari sebuah pohon besar di sana. Setelah menemukan sebuah pohon yang dia rasa bisa untuk menjangkau penglihatannya ke arah pasukan Pegasia yang berada di belakang desa, dengan lincah dia menaiki pohon tersebut hingga ujung paling tinggi. Nalurinya berkata bahwa pasukan Pegasia akan terjatuh lagi di jebakan api belakang desa. Ternyata nalurinya itu tepat, dengan sekali bidik, Bidakari mampu membakar parit tersebut dengan satu anak panah api yang dibawanya. Padahal jarak antara dia berdiri di atas pohon dengan parit jebakan api itu berjarak sekitar tiga ratus meter lebih. Kemampuan membidik yang hanya dimiliki oleh para pemanah berbakat. salah satunya adalah Bidakari putri dari Geros sang pemanah terbaik suku Sandira. Di hutan pengungsian Leona yang masih panik mencari Bidakari, mendengar teriakan salah satu penduduk laki laki yang menghampiri dan memanggil namanya. "Leona, aku melihat Bidakari di sebelah sana, dia baik baik saja!! ". Teriak laki laki itu. Leona menoleh ke arah yang di tunjuk laki laki tersebut dan benar saja, ada Bidakari di situ yang sedang berjalan cepat sambil menenteng busur ayahnya yang terlihat kebesaran dibanding ukuran tubuhnya. Leona langsung menyusul anak kesayangannya itu. " Kau darimana anakku? " tanya Leona sambil menangis dan memeluk Bidakari. "Aku baik baik saja ibu, jangan khawatir", jawab Bidakari. Sejak kematian suaminya Geros, Leona memang sangat menjaga anak perempuannya itu. Dia tidak ingin kehilangan orang yang sangat di cintainya untuk yang ke dua kalinya. " Leona cepatlah, kita sudah tertinggal dari para penduduk lain" ucap penduduk laki laki tersebut. Leona menggandeng tangan Bidakari dan mereka berlari menyusul penduduk lainnya untuk pergi bagian timur pulau Grima. 

Komentar